Senin, 18 November 2019

Seorang guru yang tetap mengajar walaupun sedang sakit


5. Tetap Semangat Mengajar Walaupun Dibantu Tali

Foto : http://cdn.klimg.com/vemale.com
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk menjadi guru, dibutuhkan dedikasi yang tinggi dan kecintaan akan profesi tersebut. Mungkin yang demikianlah yang dirasakan oleh seorang guru dari dataran Cina berikut ini. Zhu Youfang merupakan seorang guru sekolah dasar berusia 49 tahun di provinsi Hubei, Cina. Sudah tiga tahun belakangan ini ia menderita Spinocerebella Ataxia (SCA). SCA merupakan sebuah penyakit langka yang mengganggu koordinasi tangan, bicara, dan gerakan matanya. Penyakit ini merupakan penyakit genetik yang diturunkan oleh ayah Zhu.

Dengan kondisi penyakitnya tersebut, Zhu sering kesulitan untuk berdiri, mengangkat tangan, bahkan hanya untuk memutar kepala menghadap siswa-siswanya. Saat mengajar, ia malah beberapa kali harus berhenti dan beristirahat untuk memijat kepalanya yang pusing. Suami Zhu yang juga bekerja di tempat yang sama, akhirnya mengikatkan seutas tali di atas papan tulis yang digunakan Zhu. Dengan bantuan tali ini, Zhu bisa menjaga keseimbangannya.

Pihak sekolah sebenarnya sudah meminta Zhu untuk lebih banyak beristirahat dengan tetap membayar gaji penuh. Namun, ia menolak. Ia tetap datang ke sekolah tempat ia mengajar selama 31 tahun belakangan. Murid-muridnya yang mengetahui penyakit langka yang diderita oleh gurunya, seringkali menjenguknya serta mendoakan kesembuhannya. Perhatian murid-muridnya itulah yang menjadi sumber semangat bagi Zhu selain dukungan dari rekan guru, keluarga, serta wali murid. Zhu memantapkan hatinya untuk terus mengajar asal kemampuan berbicaranya tidak hilang. Benar-benar guru yang berdedikasi tinggi.

Guru yang mengajar anak" korban peperangan

4. Guru Terbaik Di Dunia Mengajar Di Camp Pengungsian

Foto : blog.act.id
Seorang wanita Palestina, Hanan Al Hroub meraih penghargaan Global Prize dan uang tunai sebesar US$ 1 juta dolar, setara Rp13 miliar. Dia dinilai berjasa mengajarkan prinsip tanpa kekerasan kepada generasi muda Palestina. Pengumuman itu disampaikan sendiri oleh Paus Fransiskus melalui fasilitas video conference pada malam penganugerahan Global Prize 2016 di Ramallah pada Minggu. Pada kesempatan yang sama, Pangeran Inggris, William juga turut mengucapkan selamat kepada Al Hroub.

"Saya begitu takjub dan masih tidak percaya Paus menyebut nama saya," kata Al Hroub kepada Associated Press. "Untuk orang Arab, guru Palestina sedang berbicara kepada dunia saat ini dan untuk mencapai puncak tertinggi dalam pengajaran dapat menjadi contoh bagi para guru di seluruh dunia," ucap dia.

Dalam pidatonya,  Al Hroub mengulang mantra non-kekerasannya dan berbicara tentang pentingnya membangun dialog. "Saya bangga menjadi guru wanita Palestina yang berdiri di panggung ini," kata Al Hroub. Dia berjanji akan menggunakan uang penghargaan tersebut untuk beasiswa bagi para mahasiswa. Ini untuk mendorong agar mereka mau menjadi guru.

Para pendukung, warga Palestina, berkumpul dan mengibarkan bendera kebanggan mereka dan berteriak, "Dengan jiwa kami, darah kami, kami berkorban untukmu, Palestina." Al Hroub tumbuh di kamp pengungsian warga Palestina di Bethlehem. Dia memutuskan mengajar setelah anak-anaknya melihat penembakan saat pulang sekolah, yang membuat dia berpikir bagaimana para guru dapat membantu anak-anak yang mengalami trauma.

Dia mengajar anak-anak mengenai non-kekerasan dan telah menulis buku berjudul 'We Play and Learn' (Kami Bermain dan Belajar), yang memusatkan perhatian pada pentinganya bermain, kepercayaan, rasa hormat, kejujuran, dan melek huruf. Al Hroub meraih penghargaan di tengah tingginya tensi ketegangan antara Palestina dan Israel, yang dalam beberapa bulan kekerasan terjadi dan menewaskan 179 warga Palestina dan 28 warga Israel serta dua warga Amerika Serikat. Kedua belah pihak mengklaim telah diserang.

Al Hroub merupakan satu dari 10 finalis yang diundang ke Dubai untuk mengikuti perayaan. Finalis lain berasal dari Australian, Finlandia, India, Jepang, Kenya, Pakistan, Inggris, dan AS.

Guru tetap semangat belajar walaupun mempunyai keterbatasan fisik

3. Tanpa Lengan, Guru Ini Tetap Semangat Mengajar Muridnya

Foto : www.bintang.com
Namanya Pak Untung. Sudah 24 tahun dia mengabdi sebagai guru honorer di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Keterbatasan fisik yakni tidak memiliki lengan membuat Pak Untung tak pesimis. Dia tetap mampu menjadi pendidik profesional, bahkan semua muridnya mengaku sangat sayang dan kerasan dididik oleh Pak Untung. Tanpa lengan bukan berarti tak bisa melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan guru. Seperti menulis di papan tulis, memberikan nilai, dan sebagainya. Jemari kakinya lihai menulis huruf Arab. Dia juga tak canggung menggunakan laptop.

Namun sayang, profesionalitasnya sebagai guru tidak mendapat penghargaan yang sepadan. Gajinya hanya Rp 300 ribu sebulan. Demi memenuhi biaya kehidupan sehari-hari, Pak Untung beternak ayam dan mengajar pengajian dengan bayaran seikhlasnya. Luar biasa Pak Untung. Jasamu tiada tara.

Seorang guru mendonorkan ginjal nya untuk murid nya


2. Mendonorkan Ginjal untuk Muridnya yang Sakit

     
Foto : www.gitugini.com
Jodi Schmidt, seorang Guru Sekolah Dasar Oakfield di Amerika Serikat, rela mendonorkan ginjal untuk salah satu murid ditempat ia mengajar. Peristiwa itu dimulai ketika Jodi mengetahui muridnya bernama Natasha Fuller, sudah berhari-hari tidak masuk sekolah. Setelah dicari tahu, ternyata gadis kecil berusia 8 tahun itu tengah berada dalam perawatan Children's Hospital, Wisconsin karena kondisi tengah menurun dan memerlukan donor ginjal secepatnya. Sang guru pun berencana untuk membatu muridnya itu. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarganya, ia membulatkan tekad menolong Natasha. Kemudian Jodi memanggil Chris Burleton, nenek Natasha untuk datang kesekolah. Lantaran selama dua tahun belakangan Natasha tinggal bersama kakek dan neneknya.

Awalnya si Chris mengira panggilan tersebut sebagai hukuman karena cucunya tidak kunjung masuk sekolah. Namun ternyata ia justru mendapatkan kejutan. Jodi memberikan sebuah kotak hadiah berwarna merah jambu pada Chris. Di dalamnya terdapat sebuah tulisan yang mengatakan bahwa Jodi berniat mendonorkan ginjal untuk sang cucu. Seketika itu juga Chris pun histeris dan menangis terharu. Ia kemudian memeluk guru cantik dan baik hati itu sembari ucapkan terima kasih.

Untuk diketahui, Natasha sejak lahir telah didiagnosis Prune Belly Syndrome. Membuatnya berisiko tinggi mengalami infeksi saluran kemih dan pengembangan otot perut. Selama ini Natasha harus ke rumah sakit tiga kali seminggu, untuk cuci darah. Dan penyakitnya itu lama-kelamaan merusak ginjalnya

Seorang guru Menyebrangi sungai untuk mengajar


1.  Menyebrang 5 Sungai untuk Sampai Ke Sekolah


Foto : www.wowkeren.com
Sebagian besar murid saat ini berangkat ke sekolah bukan karena ingin belajar, melainkan karena dipaksa oleh kedua orang tua. Hal yang sama juga terjadi pada para guru. Namun, seorang guru di Filipina ini bukanlah salah satunya. Nama Elizabeth Miranda ramai diperbincangkan karena keteguhan sikapnya dalam mengajar. Jarak yang jauh dan akses yang tidak mudah, tidak membuat wanita ini malas untuk pergi mengajar. Elizabeth harus berjalan selama berjam-jam untuk mencapai sekolah tempatnya mengajar. Bahkan, ia harus rela basah saat menyeberangi setidaknya 5 buah sungai tanpa menggunakan jembatan. Melewati sungai yang dapat mengancam jiwanya sewaktu-waktu, terkadang membuatnya merasa putus asa. Namun melihat wajah murid-murid yang menanti dengan antusias memberikannya kekuatan.

Tujuannya melakukan ini adalah untuk memberi contoh kepada murid-muridnya untuk pergi ke sekolah dan belajar. Dengan menunjukkan banyaknya pengorbanan yang dilakukan, muridnya pun bisa memahami dan mencontohnya.  Meski tidak memiliki fasilitas mewah seperti sekolah di perkotaan, Elizabeth dan murid-muridnya tetap antusias untuk datang dan belajar di sekolah ini. Semoga saja ini bisa menjadi contoh bagi para pelajar dan guru yang sering bolos.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code